AVCO Adakan Simulasi Kecelakaan Pesawat

Airfast Aviation Facilities Company (AVCO) melakukan simulasi penanganan kecelakaan pesawat terbang di Bandara Mozes Kilangin, Kamis (10/12). Simulasi bertujuan untuk meningkatkan sistem pengamanan dan penanggulangan gawat darurat penerbangan, memantapkan sistem komando pengendalian dan komunikasi dalam mneghadapi gawat darurat penerbangan di Bandar Udara Timika dan memantapkan serta meningkatkan sistem pengamanan penanggulangan gawat darurat penerbangan.

Petugas pemadam kebakaran bandara segera bergerak menuju tempat kecelakaan setelah mendengar crash bell yang dibunyikan oleh Air Traffic Control.

"Momentum ini juga kami maksudkan untuk menguji fungsi masing-masing unti terkait bidang komando, komunikasi dan koordinasi dalam penanggulangan gawat darurat penerbangan," kata Manajer AVCO Airport Subagyo Hadidjan. Selain untuk memenuhi ketentuan pemerintah tentang latihan untuk Pengaman Sarana dan Prasarana Perhubungan, Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, Airport Emergency Planning (AEP) Bandara Mozes Kilangin dan FRESH System 3.07 tentang Emergency Drill and Instruction, latihan itu merupakan salah satu program kerja PT AVCO di tahun 2009.

Truk pemadam langsung menyemprotkan busa, sementara para petugas pemadam mengeluarkan selang untuk membantu memadamkan api.

Simulasi tahunan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang terkait, yaitu: Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Udara (KP3U), Pangkalan Udara (Lanud) Timika, Dinas Perhubungan Udara, International SOS, Emergency Response Group (ERG) PT Freeport Indonesia (PTFI), PT Jasa Angkasa Semesta (JAS), serta maskapai penerbangan yang ada seperti Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Trigana, MAF, AMA, dan PT Dasa Angkasa.

Evaluasi berlangsung di Fire Station bandara usai latihan selesai.

Manajer AVCO Airport Subagyo Hadidjan menambahkan bahwa minimal latihan penanganan kecelakaan tersebut harus dilakukan sekali dalam satu tahun. "Dengan latihan kami akan mengetahui kemampuan dan kekurangan yang ada, mengevaluasinya untuk melakukan perbaikan guna mengeliminer kesalahan yang ada," tuturnya.

Tumpukan ban yang dibakar diumpamakan sebuah pesawat Boeing 737 yang mengalami kecelakaan.

Dalam simulasi yang berlangsung mulai jam 15.15 WIT itu dikondisikan sebuah pesawat Boeing 737 tujuan Jayapura-Timika yang membawa 74 penumpang, gagal mendarat dan ke luar dari landasan pacu sejauh 75 meter. Bagian kokpit pesawat hancur, sayap kiri pesawat patah, roda pesawat hancur sehingga menimbulkan api yang kemudian membakar pesawat.

Seorang petugas pemadam kebakaran menjinakkan api dengan semprotan busa.

Sesaat mendengar crash bell dari petugas menara (Air Traffic Control), petugas pemadam kebakaran bandara segera bergerak menuju tempat kecelakaan. Ketiga truk pemadam diposisikan menghadap api dan serentak menyemburkan busa, sementara para petugas yang lain turut membantu menyemprotkan busa dari selang yang mereka ambil dari truk pemadam. Begitu api mulai bisa dikendalikan, petugas pemadam yang lain mencoba membuka jalan agar petugas penyelamat dapat langsung bergerak memberikan pertolongan. Korban dievakuasi ke tempat khusus dan memasang pita berwarna berbeda di lengan berdasarkan kondisinya; meninggal, luka bakar, patah tulang, luka berat dan ringan. Di tempat tersebut, petugas paramedis dari ISOS, ERG, RSMM dan RSUD melanjutkan menangani korban untuk selanjutnya dikirim ke rumah sakit yang telah dirujuk.

Sesaat api mulai bisa dikuasai, petugas lainnya melakukan evakuasi korban.

Hujan deras yang mengguyur bandara sejak awal hingga simulasi berakhir tak mengurangi keseriusan setiap peserta. Sesekali, mereka berimprovisasi dengan mengangkat alas terpal plastik bersama-sama untuk dipergunakan sebagai tempat berteduh. Usai melakukan simulasi, semua petugas kembali ke stasiun pemadam kebakaran yang berada dekat menara untuk melakukan evaluasi. Lima hal yang menjadi fokus adalah waktu penanganan, waktu penguasaan dan pemadaman api, evakuasi korban dan kedatangan tim medis. (bw)