"Sebelum ada Freeport, tidak ada prasarana kesehatan di sini," kata Dr. Morrison Bethea, Direktur Medis Freeport-McMoRan Copper & Gold. "Ketika itu, pucuk pimpinan kami, Jim Bob Moffett, mempunyai visi mendirikan sistem pelayanan kesehatan yang sebaik mungkin - yang berkelas dunia - bagi karyawannya, dan selain itu, ia hendak membangun perangkat yang sama bagi masyarakat setempat dengan cara yang berkelanjutan."

Hasilnya adalah sebuah sistem pelayanan kesehatan terpadu secara vertikal yang memberi pelayanan bagi karyawan Freeport mulai dari tambang hingga ke daerah pantai, bersamaan dengan sistem yang sama kompeten dan komprehensif bagi masyarakat setempat pada koridor wilayah proyek Freeport dan desa-desa bersebelahan mulai dari pantai Laut Arafura hingga masyarakat gunung di Pegunungan Tengah.

Sebuah rumah sakit besar setempat berkapasitas 101 tempat tidur yang dibiayai oleh Freeport dan dimiliki masyarakat setempat melalui LPMAK, serta dikelola oleh organisasi pelayanan kesehatan Yayasan Caritas Timika, melayani warga dari tujuh suku asli yang menghuni daerah itu. Sejumlah klinik yang terdapat di lokasi terpencil sekitar melayani ribuan pasien setiap minggunya. Sebuah organisasi layanan medis yang tersohor di lebih 60 negara, International SOS, mengelola sistem layanan kesehatan Freeport, serta menjadi penasihat ahli bagi sistem layanan kesehatan masyarakat dan pemerintahan setempat, dalam upaya yang oleh Dr. Bethea disebut sebagai kerjasama yang berhasil. "Kami semua mempunyai suatu kesamaan. Apakah anda seorang karyawan Freeport atau anggota salah satu kelompok masyarakat asli setempat, yang anda dambakan adalah layanan medis yang memadai bagi diri anda dan keluarga, selain itu anda mengharapkan anak-anak anda dapat mengalami lebih baik daripada yang anda alami."

Salah satu bidang yang merasakan betul manfaat dari upaya kerjasama tersebut adalah Kesehatan Masyarakat. Jumlah penduduk setempat telah melonjak dari beberapa ribu orang menjadi lebih dari seratus ribu orang dalam kurun waktu relatif pendek, 30 tahun. Akibatnya, upaya memerangi malaria dan penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS menjadi lebih rumit. Di tengah kerumitan tersebut, banyak keberhasilan yang telah dicapai. Tahun lalu, tingkat penyembuhan TBC di wilayah tersebut mencapai 93,3 persen, dibanding angka rata-rata WHO sebesar 85 persen. Sebuah program pendidikan HIV/AIDS yang ditujukan bagi karyawan maupun masyarakat setempat mendapatkan pujian dari berbagai lembaga kesehatan dunia.

Saat ini, di seluruh dunia, malaria membunuh lebih banyak orang dibanding penyakit lainnya. Obat-obatan yang digunakan di Indonesia saat ini, mempunyai kemungkinan 80 persen untuk mengembangkan resistensi, sehingga penyakit berulang kembali dan dibutuhkan perawatan kembali. Tim Layanan Kesehatan Masyarakat Freeport telah bekerja selama lebih satu dasawarsa untuk menghentikan penyebaran penyakit mematikan tersebut di daerah ini melalui upaya berujung tombak ganda yang mencakup pengendalian nyamuk pembawa parasit malaria, penyerangan terhadap vektor tempat nyamuk berkembang biak, penyediaan obat pencegah, pemeriksaan terhadap masyarakat, dan penyediaan cara pengobatan terkini.

Strategi kesehatan masyarakat senantiasa mengalami perkembangan. Ratusan petugas layanan kesehatan Freeport, dinas kesehatan setempat, dan Biro Program Kesehatan LPMAK, semuanya memiliki komitmen untuk memerangi malaria dan penyakit lain, dan lebih penting lagi, mengupayakan pendidikan kesehatan bagi penduduk yang kian tumbuh dan berubah.